Senin, 02 Februari 2015

Destiny!

“You're destined to meet the person you're meant to be with even if you try not to be with them”


Jumat, 30 Januari 2015

Menuju Jakarta Tanpa Peta Tanpa Jeda! part II

Masih serangkaian cerita #JadiPM angkatan X dengan cerita awal part I )


Ok, kita lanjut ke cerita di dalam bus Primajasa Tasik - Lebak Bulus. Saya duduk menahan dingin dan menahan rasa parno. Menatap lembayung dari Jalan Gerbang Tol Cileunyi. Saya suka senja, senja selalu penuh harapan!

Enjoy Your Life!

1. Pray to Allah 
2. Keep your health 
3. Do what you love 
4. Make a laugh with Fam's 
5. Hangout with friend 
6. Buy everything you need 
7. Go wherever you want 
8. Love someone 
9. Be whoever you wanna be 
10. Smile to the world 

Kamis, 29 Januari 2015

AKANG

Sebelum saya melanjutkan cerita Menuju Jakarta Tanpa Peta Tanpa Jeda! Saya ingin berbagi tentang hal menggelitik yang baru saya sadari  dari orang bukan sunda di Jakarta.


Begini ceritanya,

Biar Allah SWT yang mengeksekusi :)


Ada mereka diluar sana yang barangkali berstatus sama, beralmamater sama, berusia sama dan hidup di kota yang sama. Namun dengan pencapaian yang jauh di atas saya.

Rabu, 28 Januari 2015

#Rokok

Hey, kamu yang lagi berjuang menyiapkan mahar
biar kita jadi teman halal!
Sayang sama aku kan? grin emotikon




Lelaki keren itu sanggup hidup tanpa Rokok!
Ya, jantung aja bisa dijaga apalagi hatinya :D


"Berapa Usiamu Sekarang?"

Ingin menulis tentang diri sendiri di usia yang baru. Ya, kata kang Kemas mah usia tak sekedar angka tapi apakah saya sudah bisa dikatakan dewasa?

Selasa, 27 Januari 2015

Menuju Jakarta Tanpa Peta Tanpa Jeda! part I

(Masih serangkaian cerita #JadiPM angkatan X dengan cerita awal Menjadi Pelari Terakhir Indonesia Mengajar Dimulai dari Esai! Part I dan Menjadi Pelari Terakhir Indonesia Mengajar Dimulai dari Esai! Part II )

Seperti biasa, beberapa hari menjelang keberangkatan saya masih bisa tidur nyenyak dan santai meskipun hati meracau... tapi ya bukan saya jika tidak sempat menggunakan the power of kepepet (It's too bad). Jadilah saya mengerjakan RPP dan Media Pembelajaran untuk Simulasi Mengajar (salah satu bentuk tes dalam DA) menjelang hari H. Nilai mata kuliah Media Pembelajaran saya memang A tapi bukan media gambar, bukan!. Dan sok-sok-an saya menantang diri sendiri di waktu yang sempit itu untuk menggunakan media gambar yang diwarnai sendiri. *Yeahh, gambarnya menyusul.

Jam 3pm, saya masih di sekolah untuk menge-print rpp dan media yang telah dibuat jam 3am tersebut. *Media dan RPP yang ternyataaaaaaaaaaa, nanti saya ceritakan di bagian tes DA. Otak saya mendadak sibuk memikirkan ini itu, menatap kembali catatan barang yang perlu dibawa. HP saya pun tak kalah sibuknya, media sosial dan SMS ramai. Ada sekian menit saya mengalami kebingungan karena sebenarnya saya tidak pernah ke Jakarta sendirian, saya tidak tahu pergi dengan menggunakan angkutan umum ke Jakarta sore hari dan sendirian. Saya benar-benar tidak berpengalaman sebelumnya!

Saya menggunakan kemampuan mencari informasi dari teman-teman yang tinggal di Jakarta atau sering ke Jakarta. Kenapa bukan keluarga yang saya hubungi? Karena ceritanya, saya mau sok keren, sok hebat, sok dewasa, sok tidak ingin membuat khawatir. Sok pokokna mah!

27 Januari

Sepintas muncul wajah seorang gadis berusia 18 tahun yang menangis di sudut sebuah rumah sakit besar di kota Bandung. Tujuh jam menuju pertambahanan usianya, matanya basah sebasah air hujan yang menghujam ke setiap pori tanah. Berjalan tanpa harapan melewati setiap lorong rumah sakit mengantarkan yang tercinta pulang, melewati sebuah lorong yang sepi dan gelap. Namanya ruang jenazah. Begitulah memori yang terekam selama lima tahun dibenaknya. Sebuah memori yang berhasil menghapus semua memori tanggal ulang tahun orang-orang di sekitarnya. Sebuah memori yang menjadikan tanggal 28 Januari sebagai hari pemakaman bukan hari kelahiran.

Senin, 26 Januari 2015

Menjadi Pelari Terakhir Indonesia Mengajar dimulai dari Esai! part I

31 Desember 2014, saya masih berada di kota Tasikmalaya untuk berlibur dan sejenak melupakan rasa deg-deg-an menanti hasil pengumuman seleksi tahap I. Seperti yang saya tulis sebelumnya di Surat Balasan part I dan tentang perasaan saya Surat Balasan II. Akhirnya, pagi hari ketika meng-update media sosial facebook, saya melihat sepupu (yang juga seorang PM) membagikan Link Pengumuman Hasil Seleksi Tahap I Indonesia Mengajar Angkatan X . Sembari saya cek akun twitter @Ind_Mengajar dan ternyata benar, hasil telah diumumkan pagi hari tanggal 1 Januari 2015. 

Perlahan *lebay* tapi serius saya scroll dikit-dikit, takut. Saya bahkan meminta saudara saya yang membacakan, saya meminta ia mencari nama Febby Noor Fadhillah. Dia bilang ada dengan wajah datar, jiwa saya masih melayang, saya bilang jangan becanda. Nyatanya nama saya benar-benar tertulis disana sebagai peserta ke 110 sesuai huruf awal. 

AllahuAkbar! Tentu saya bahagia, mengingat bagaimana akhirnya saya menjadi salah satu aplikan. Saya pun menulis  rasa syukur dan penyemangat untuk diri sendiri. Emang lebay sih, apa-apa ditulis :D

Tapi

Jumat, 23 Januari 2015

No (-t yet) Title

Dalam masa pengumpulan inspirasi untuk menulis:

1. Menuju Jakarta tanpa peta tanpa jeda. #draft
2. Kandidat Pelari Terakhir, Tujuh Jam untuk Tujuh Tes! #Draft
3. Pulang bersama Kang Endang: Pahlawan Masa Kini! #Draft
4. Satu minggu, sampaikah usiaku? #Draft
5. "Wanita, segeralah menikah!" #Draft

...dan menanti jawaban teman-teman tentang #MenikahMuda, Nona Maretty yang bukan bule hanya lahir di bulan Maret itu nyenggol soal Suami. Duh, guru-guru di sekolah sampai nunjukin yang ini yang itu, bilang jangan ini jangan itu, lah bingung saya. Wong saya aja gak punya kriteria khusus dan lagian saya juga santai aja.

Nih salah satu kutipan yang saya suka,
"Saya berpotensi untuk jatuh cinta pada seseorang hanya karena pemikirannya, dan lupa yg lainnya. Apa itu berbahaya?"

Surat Cinta dari Allah SWT

"...Allah tidak menjadikan bagi seseorang
dua hati dalam rongganya."
(Al-Ahzab:4)

Kamis, 22 Januari 2015

Curcol: Perempuan Golongan Darah O

muhasabah: apa yg menjadikan kita dianggap cerdas akalnya? cantik rupanya? dan ceria hatinya?

Menurut yang tertulis dalam sebuah buku bestseller perempuan dengan golongan darah O menarik bagi lawan jenis karena penuh semangat, ceria dan cerdas. Anda boleh tidak percaya, karena saya pun yang bergolongan darah O mulai tidak percaya diri ;)

Kawan galau, inget masa menangisi ia yang terlalu ramah dan baik hati?

Terlambat!

Jiwa ini terjebak di usia remaja berusaha dewasa dengan semangat mahasiswa. 

Baru sadar tahun depan 25 tahun. Banyak seleksi yang tidak lagi bisa diikuti. Ini menyesakkan, banyak hal yang ingin saya lakukan. 

Sebenarnya menginjak usia 24 tahun pun belum, saya baru lulus kuliah dan banyak kesempatan terabaikan sampai batas usia menyadarkan. Terlambat bergerak! 

Merindukan Sosok Hebat yang Hatinya Selalu Saya Sayat dan Sakiti

"Saat Ibu pergi aku memang menangis tapi tak
seperih saat Kakek pergi menyusul Ibu.
Rasanya seperti benar-benar Yatim Piatu."

"Why Do We Want To Be Parents?"

Bulan Oktober lalu SCM dan SMP Bahtera mengadakan “Parents Forum bersama Gobind Vashdev tentang Compassionate Parenting”. Gobind Vashdev merupakan sosok inspiratif, author dari Buku Happiness Inside dan finalis Penghuni Terakhir.

Tweets pertama bertagar GURU

Hasil sharing dengan #guru lain yang berlatar belakang sama, sama-sama terbiasa mudah memahami pelajaran,ternyata ada.. 

Cinta?


Apalah pentingnya siapa yang saya sukai, kagumi dan dekati sekarang? Jika akhirnya yang harus dicintai adalah ia yang berhasil akad di hari nanti. 

Saya senang cukup senang dan tidak boleh sedih.
Siapapun dan bagaimanapun seorang lelaki membuat saya bahagia atau terluka.


Selasa, 06 Januari 2015

Untuk tuan ..

"Aku bahagia mengajar disini, selalu dibentuk untuk menjadi hebat tapi aku ingin mengajar setahun disana dan menginspirasi seumur hidup. Bolehkah?

Duh


Peringatan: Tulisan ini tidak memuat basa basi busuk ataupun pernyataan ambigu! 
Bukan cuma saya, boleh jadi kita pernah bertemu orang yang bertahun-tahun lalu diperhatikan lebih daripada kita memperhatikan diri sendiri. Kita menyebutnya cinta! 


Duh, cinta.. katanya.